Dari awal aku bisa melihatnya dengan kedua mataku aku sudah sangat mengagumi perempuan ini, sejak aku bisa memanggil namanya dengan baik dan berkata “Mama…aku mo beli bakso…” *ratapku* , umurku belum juga genap 5 tahun kala itu dan dengan sayang dia menjawab “Mama buatin aja ya, lebih enak loh lebih sehat bahkan”. Demikian terus ketika aku meminta untuk di belikan jajanan apapun maka dengan keterampilannya memasak dan membuat kue Beliau akan dengan sigap membuatkan kami anak-anak nya makanan yang serupa, kecuali beliau sedang sakit atau tidak enak badan tentunya.

Papa & Mama, Kebun Raya Bogor tahun 1992
Ketika pagi itu aku dibangunkan menjelan sholat subuh, mama berkata padaku
“Ria, mulai hari ini bantuin Mama bawa kue kewarung ya…kita jualan kue sekarang”
(Kue yang di jual waktu itu Pisang goreng, ketan, Kue bugis, Kue nagasari, onde-onde dan kue bolu) dan dengan polosnya anak umur hampir 7 tahun bertanya
“Ma, kok harus jualan kue, papa kan duitnya banyak ma?”
“iya…Papa kan lagi sekolah lagi sayang, jadi kita yang harus gantian bantuin papa” jawabnya sambil mengelus rambutku yang panjang
Dan Mulai hari itu dari umurku kurang dari 7 tahun sampai dengan umurku 9 tahun, setiap dini hari jam 2 malam Mama akan bangun untuk membuat kue yang akan aku antar ke warung-warung untuk dititipkan setelah sholat subuh. Biasanya Mama yang membuat adonan dan membungkus kue sedangkan Papa yang menggoreng atau membungkus, Mereka akan membangunkan aku ketika semuanya telah siap diantar sesaat setelah azan subuh berkumandang.
Aku ingat sekali hari itu aku menangis diam-diam karena takut dilihat dua adikku Erna dan Pipit, Rencananya hari itu Mama dan Papa serta Adikku Uci dan Adi akan pergi ke Jakarta. Alasan mereka hanya sekedar jalan-jalan kepada Nenek *mamanya Papa*, tetapi malam sebelumnya Mama berbisik kepadaku sebelum tidur
“Mama besok pergi ya Ria…tolong jaga Erna dan Pipit kalau ada apa-apa nanti kamu kirimin mama surat, nanti sesampai dijakarta Mama kasih tau alamatnya ya”
“Memangnya Mama gak mo pulang lagi ya? aku ikut Ma…” Jawabku merengek
“Mama dan Papa pindah ke Jakarta biar bisa lebih mandiri, kalau Mama tinggal terlalu lama dengan Nenek gak bisa mandiri Nak” Jawabnya sambil memeluk aku
“Terus yang ngurusin Aku siapa ma? yang masakin aku siapa?” jawabku dengan air mata menggantung di pelupuk mata
“Loh…kok anak mama cengeng sih…jadi cewek itu harus jadi jagoan juga dunk, kamu pasti bisa nanti mama jemput kalau Mama dan Papa udah beli rumah di Jakarta” Jawabnya dengan mata sembab menyembunyikan air mata.
Saat itu aku masih kelas 3 SD, dan perempuan itu mengajarkan aku mandiri , sejak itu dia rela berpisah dengan tiga anak perempuannya agar menjadikan ketiga anak perempuannya itu perempuan yang mandiri.
Waktu itu aku duduk di kelas 5 SD, mama dan papa datang berkunjung dan menetap agak lama di Makassar.Mama datang untuk Menjemput Pipit adikku yang nomer 3 karena katanya sudah mengontrak rumah dijakarta di bilangan Bukit Duri Tanjakan. Lagi-lagi waktu itu aku merengek
“Ma…kok yang di jemput cuman Pipit? Aku sama Erna gak ikut ya?” tanyaku
“Nanti mama Jemput sayang…rumah di Kontrakan itu kamarnya cuman 3, kasian kalian desak-desakan…enak juga dirumah nenek sekarang kan luas” Jawabnya tersenyum.
“Tapi aku kan pengen deket sama mama…kapan dunk aku ikut mama?” jawabku setengah hati karena tidak terima.
“Pasti mama jemput…setelah kamu jadi anak pinter yang selalu juara ya, harus belajar jadi perempuan yang mandiri” jawabnya.
dan kali itu tidak pergi karena mama hanya menjemput Pipit sedang Erna dan Aku tetap tinggal dengan nenek. Liburan Kejakarta menjelang kenaikan kelas membuat aku mengerti kenapa Mama belum mau Aku dan Erna Pindah bersama beliau. more…














Comments?