Ali

Aku merapikan jilbab dan bajuku, hari ini aku harus terlihat lebih rapi biar terkesan segar siapa tau hari ini akan banyak tamu di rumah kecil sederhana itu. Rumah itu adalah rumah yang kulihat, kujaga, kubersihkan dan kuhuni menghabiskan waktu setiap hari menjelang jam 6 pagi hari sampai dengan jam 10 malam, aku akan mengendap-endap pulang ketika anak-anak yang mendiaminya sudah terlelap kelelahan bermain. Kadang terpikir olehku lelah sekali menghabiskan waktu dan menyesal hampir tidak punya kehidupan sosial menjalani pekerjaan ini tetapi ketika melihat wajah anak-anak tersebut rasanya capek dan lelahku menguap lalu aku akan cepat-cepat mengutuki diri kenapa sempat terlintas sesal menjalani hari-hariku dirumah tersebut.

Rumah itu tidak terlalu luas bertingkat dan berbentuk seperti sekolah, terdiri dari tiga kamar utama di lantai satu untuk bayi dan balita sedangkan lantai dua untuk anak-anak yang berumur diatas lima tahun. Dengan jumlah penghuni lebih dari 70 anak membuat rumah ini tidak pernah sepi ada saja gelak tawa atau tangis terdengar dari seluruh penjuru ruangan membuat kami para pengasuh harus tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Kadang jikalau mereka sedang ribut bertengkar untuk mendiamkannya aku harus mencuri perhatian dengan bernyanyi atau dengan lantang menyerukan.

“Bunda punya cerita tentang gajah dan tupai, anak-anak bunda mo denger gak ya?” teriakku
“Mauuuuuuuuuuuuuuu” koor mereka serempak dan suasana perkelahian akan mereda, berubah senyap dan mereka dengan antusias akan mengeliliku tertib. Lalu akan memulai bercerita yang tentunya cerita yang akan kukarang sendiri.

Begitulah hari-hari yang kulalui tawa canda yang mereka berikan, kenakalan yang terkadang membuatku gemas dan manja mereka membuatku selalu kangen jika sehari saja aku berhalangan hadir disana. Suasana riuh ketika mereka harus aku paksa agar mau memakan makanan sehat atau vitamin kadang membuatku harus berkejar-kejaran dengan mereka, ah…aku sayang sekali dengan mereka, anak-anakku itu merubah drastis hidupku yang hampa menjadi bahagia.

Pagi itu ketika aku membereskan meja tamu, kulihat sebuah taksi berhenti di depan rumah. Turun dari taksi tersebut seorang perempuan muda berparas ayu dengan roman muka yang sulit kulukiskan. Perempuan itu menggendong bayi yang masih sangat kecil perkiraanku sekitar berumur satu minggu. Mengucapkan salam perempuan itu tersenyum kepadaku.

“Assalamu’Alaikum…” ucapnya.
“Waalaikum’Salam Wr.Wb…” Jawabku, dan bergegas menyongsongnya.
“Saya mencari Ibu Nike mbak, apakah beliau ada?” tanyanya dengan melayangkan pandangan ke seantero ruangan.
“Saya Nike, ada keperluan apa ya?” tanyaku menyelidik
“Kemarin sore saya bertemu ketua yayasan rumah asuh ini Mbak, saya panggil Mbak gak apa2 kan? ” jawabnya
“gak apa-apa kok, saya juga lebih senang di panggil itu” ujarku
“Mbak, saya sudah bicarakan tentang anak yang saya gendong ini dengan ketua yayasan. Beliau tidak keberatan saya titipkan disini, saya pun sudah mengis form perndaftaran dan  menandatangani perjanjian bahwa saya boleh menengoknya setiap saat dan jika nanti saya sudah mampu membiayai hidup saya dan anak ini saya boleh mengambilnya kembali. Bapak ketua yayasan meminta saya langsung kesini dan bertemu dengan Mbak Nike” Dia menjelaskan dengan mata merah menahan tangis.
“Maaf boleh saya tau kenapa kamu menitipkannya kepada kami?” tanyaku dengan hati-hati
“Saya belum siap mbak, memang anak ini sangat ganteng dan sangat mirip ayahnya dan itu pula yang membuat saya tidak mampu menatapnya” isaknya
“loh, ayahnya kemana?” tanyaku
“dia pergi mbak, tidak memberi kabar tau-tau aku dengar dia dipenjara karena ketahuan bekerja sebagai bandar narkoba” ceritanya
“selain tidak siap, terus terang saya takut kalau anak ini sama saya, saya takut dia diculik gerombolan ayahnya untuk membuat ayahnya didalam penjara tidak membocorkan rahasia mereka” melanjutkan ceritanya terbata-bata.
“akan saya rawat anak ini penuh kasih sayang, seperti kami juga mengasuh anak-anak yang lain” lalu mengambil anak itu dari gendongannya
ragu-ragu dia menyerahkan anak itu dan berujar
“terima kasih ya mbak, nama anak itu ali” sambil menuliskan nama di sebuah kertas kosong
“Ali fikry…nama yang bagus” ujarku.
“Mbak, saya pamit ya pasti suatu saat aku akan kembali lagi untuk mengambil ali” ujarnya sambil berdiri, menghampiri anaknya yang berada di dalam gendonganku dan mengecup kening anaknya sambil menahan isak tangis.

Perempuan itu lalu bergegas ke pintu dan keluar tanpa menengok lagi, kalau aku perkirakan umurnya sekitar 23 tahun..mmm…2 tahun lebih muda dariku. Kasian sekali perempuan itu pikirku, dia harus kehilangan suaminya di umur semuda itu dan anaknya sekaligus untuk menjaganya. Anak ini tertidur lelap dalam gendonganku lalu kepeluk dia dengan  sayang dan meletakkannya di tempat tidur bayi yang kosong.

…Dua tahun kemudian…


Ali tumbuh menjadi anak yang sangat tampan, dan langsung jadi perhatian dan idola sejak dia menghuni rumah ini dua tahun yang lalu. Setiap orang yang bertamu selalu menyempatkan untuk mengendongnya atau bermain dengannya, dia juga lucu dengan hidung mancung warisan ibunya dan kulit putih yang lembut. Rambutnya yang agak ikal sedikit panjang membuatnya tambah lucu, mungkin rambut ikalnya itu adalah warisan ayahnya karena perempuan yang menitipkannya yaitu tidak lain ibu kandungnya berambut lurus alami. Beberapa kali Ali ditengok ibunya tetapi setiap perempuan itu datang aku tidak pernah bertemu dengannya. Sering juga sepasang suami istri ngotot ingin mengadopsi Ali dan terpaksa kami tolak secara halus bahwa Ali itu disini hanya di titipkan.

Aku sedang menyiapkan susu untuk bayi-bayi yang tinggal bersama kami, ketika salah satu anak berteriak

“bunda nikeee….ada yang nyari nih” dari suaranya aku kenal itu pasti Sarah yang memanggil
“Siapa? minta bunda Sri yang nemuin, bunda lagi bikin susu buat adik2 kalian” jawabku sekenanya..
“gak mau bunda, tante ini mintanya ketemu bunda dia sama bapak” jawabnya lantang…
mmm…bapak bersama seorang wanita pikirku? Bapak adalah sebutan anak-anak untuk ketua yayasan. setengah berteriak aku menjawab.
“oke…bunda keluar, dipersilahkan duduk ya” jawabku lalu bergegas menyelesaikan pekerjaan.

Lima menit kemudian aku keluar, dan terpaku karena di hadapanku berdiri seorang perempuan cantik dengan dandanan modis memakai kacamata hitam. Bapak lalu menghampiriku dan berbicara bisik-bisik.

“Nike..itu ibunya Ali, kamu masih ingat?” Tanya Bapak
“iya pak saya ingat” jawabku
“Tadi dia datang kerumah bapak berbicara serius bahwa dia sekarang berkecukupan, dia ingin mengambil Ali kembali” masih dengan bisik-bisik bapak bercerita padaku.

Ali sedang bermain bersama nadia,  tawanya sesekali tergelak ketika Nadia menggodanya dengan mimik lucu. Agak lama aku tidak mampu mengayuhkan kaki menghampirinya ada rasa kehilangan yang tiba-tiba hinggap didada mengingat sebentar lagi Ali sudah tidak akan berada diantara kami semua. Perasaan itu cepat-cepat kuhilangkan, toh pun memang dia disini hanya di titipkan dan pastinya dia akan lebih bahagia jika berkumpul dengan ibu dan ayahnya ketimbang harus tumbuh di lingkungan panti asuhan ini. Kugendong dia, kudekap dan kuciumi…pasti aku akan sangat kangen sama anak ini, seperti biasa Ali apabila aku menciuminya sayang dia akan memainkan rambutku dengan tangan-tangannya yang mungil.

sesampai di depan, perempuan itu yang bahkan sampai sekarang aku tidak pernah menanyakan namanya serentak berdiri dan takjub melihat anak yang ada di gendonganku. Dia lalu menghampiri kami dan tersenyum sayang ke Ali

“Boleh ku gendong dia mbak?” tanyanya
“Silahkan…Ali kan anakmu, tentu saja boleh?” aku tersenyum lalu menyerahkan Ali kepadanya
“Mbak terima kasih sudah merawat Ali ya, aku tidak akan pernah melupakan jasa-jasa mbak dan panti asuhan ini” ujarnya

Kulirik Ali yang sekarang berada di pangkuan perempuan itu, anak itu mungkin tau bahwa yang mengendongnya adalah ibunya dia terlihat sangat nyaman. Aku merasa sangat lega melihat ekspresi Ali yang senang berada dalam pangkuan perempuan itu.

“Kamu sudah siap merawatnya sendiri? ayahnya bagaimana?” tanyaku penuh selidik
“Insyaallah saya sudah siap mbak, walaupun ayahnya dan saya sudah resmi bercerai tapi saya yakin akan mampu membiayai dan merawat Ali” ujarnya dengan mantap
“Alhamdulillah kamu sudah siap ya dyah, semoga Ali bisa tumbuh menjadi anak yang baik” Bapak menimpali dari ujung meja
“Semoga dia kelak menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya, kapan-kapan ajak dia main-main kesini ya” ujarku, dalam hati aku berkata..ohhh nama perempuan ini dyah.
“iya Pak, Mbak…terima kasih untuk semuanya ya” jawabnya tulus
“Urusan kita kan sudah selesai, kamu bisa membawa Ali pulang sekarang” kata bapak kepadanya, tanpa menoleh kepadaku. Bapak tau benar roman mukaku saat itu sedih karena aku akan kehilangan anak yang telah aku asuh selama 2 tahun.
“Jaga Ali baik-baik ya…”Susulku
“Pasti Mbak Nike…dan terima kasih atas semuanya, saya Pamit ya pak, saya pamit ya Mbak” Jawabnya lalu berdiri dan membawa Ali pergi.

Aku terdiam di tempat memandang punggung wanita itu berlalu menyembunyikan badan Ali yang hanya kelihatan kepalanya dengan mata menatapku. Air mataku menitik seketika, anak itu telah pergi akankah aku bertemu dengannya lagi?

…Satu minggu kemudian…

Bunyi HP ku nyaring terdengar ketika aku baru saja sampai dirumah, tadi aku meninggalkan Rumah Panti Asuhan itu sekitar jam 9 malam saat anak-anak itu sudah terlelap tidur. Aku mengangkatnya, kudengar suara Bapak disana gelisah dan berkata

“Kamu sudah baca Koran Lokal pagi ini nike?” Tanyanya
“Belum sempat pak, saya baru saja sampai rumah” jawabku
“Coba baca ada berita tentang Rumah Panti asuhan kita” jawabnya singkat dan mengakhiri percakapan

Aku mencari koran lokal yang memang ada setiap hari karena ayahku berlangganan koran tersebut. Penasaran kubuka halaman pertama dan sangat terkejut mendapati sebuah judul “Panti Asuhan Kasih telah menjual anak seharga satu juta lima ratus ribu rupiah” duh…itu kan nama panti asuhan tempat aku bekerja kok ada judul berita yang tidak benar seperti itu. bergegas kubaca kalimat demi kalimat dan ber ohh…ketika selesai membaca paragraf di tengah.

….Ibu dyah di tahan di Polsek sukamakmur karena dituduh menjual anak kandungnya dengan kedok adopsi seharga Rp.1.500.000,- diduga dia berkomplot dengan panti asuhan Kasih. Bagian penyelidik kasus ini akan memanggil semua pengasuh di Panti Asuhan tersebut besok siang ke kantor polisi guna penyelidikan lebih lanjut…..

Aku terhenyak tidak percaya dengan berita yang baru saja kubaca, besok aku bersama pengasuh-pengasuh lain pasti akan bergiliran ditanyai. Hatiku serasa hancur mengingat Ali, belum sembuh benar rasa kehilanganku karena dia pergi dari Rumah itu dijemput ibunya kini tiba lebih sakit lagi mengetahui bahwa perempuan itu tega memberikan anaknya di adopsi oleh orang lain dengan imbalan uang hanya Rp. 1.500.000,- sungguh terlalu dia! Aku yang merawat Ali, membesarkannya dengan kasih sayang, mengganti popoknya menidurkannya, mendiamkannnya ketika dia Rewel dan perempuan itu seenakanya memberikan anak yang kami asuh selama 2 tahun dengan penuh kasih sayang seharga uang yang tidak seberapa itu…sungguh terlalu…

Keesokan paginya sekitar jam sepuluh pagi aku dan dua pengasuh mendapat giliran untuk di periksa di kantor polisi, sesampainya disana aku melihat perempuan yang bernama Dyah itu menundukkan muka melihatku memasuki ruangan. Aku menghampirinya dan refleks dia berdiri, ketika dia mengulurkan tangan untuk menyalamiku aku diam saja dan menampar pipi perempuan itu. Dia tidak melawan karena dia tau pasti bahwa dia yang telah mengacaukan segalanya. dengan lantang dan penuh emosi aku berkata.

“Kamu tau bagaimana kami merawat Ali dirumah asuh itu? Kamu tau tidak?” teriakku parau dengan isak tangis tertahan
dia menunduk memegangi pipinya yang kemerahan akibat tamparanku dan menjawab
“Saya tau mbak, maafkan saya…saya butuh uang itu saya khilaf” dengan air mata terurai
“Kamu tidak tahu sangat tidak tahu karena kalau kamu tahu kamu tidak akan tega melakukan perbuatan sekeji ini, ibu macam apa Kamu” tantangku melihat kedua matanya yang memerah.
“Mbak…saya minta maaf, saya sudah mencoba mengambil Ali kembali tapi ternyata tidak bisa karena sudah di sahkan notaris” jawabnya terisak, kentara sekali dia sangat menyesal
“Terima akibat perbuatanmu sendiri, saya yakin kamu akan menyesali ini seumur hidup!” jawabku lalu meninggalkan dia menuju ruang interogasi.

Proses hukum belum selesai dua minggu dan ketika menginjak tiga minggu setelah kejadian itu, Bapak Ketua yayasan membuat pengumuman di media cetak bahwa tuduhan kepada Rumah Panti Asuhan Kasih beberapa waktu lalu tidaklah benar. Suasana mereda tetapi kami dirumah ini sangat kehilangan Ali, seorang anak yang sangat amat lucu dan tampan.

Apakah nanti dia akan mengenali ibunya? menurut kabar yang aku terima dalam surat perjanjian adopsi  yang di sah kan notaris, perempuan itu tidak diperkenankan menengok atau bertemu dengan Ali sebelum umur Ali 17 tahun, Apakah Ali akan mengenaliku atau mengenali teman-temannya disini?  Kemana gerangan Ali dibawah oleh orang tua asuhnya? Apakah dia mendapat kasih sayang seperti yang telah kami berikan selama 2 tahun di rumah ini? tidak ada yang tau…yang aku tau bahwa aku harus mendoakan Ali semoga dia bahagia dan penuh dengan limpahan kasih sayang dimanapun dia berada.

******

Duri, 7  September 2009
Kamar kost
Terinsprirasi oleh cerita Ibu Tika, di Panti Asuhan Fajar Harapan
ketika bertandang kesana tanggal 5 Septemen 2009 kemarin.
based on true story dengan tambahan fiksi.

cerita liputannya jalan-jalan ke Panti Asuhannya menyusul ya :)

******

tulus

47 Responses - Add Yours+

  1. Panglatu says:

    Di dunia ini memang masing banyak orang yang tidak bisa menghargai perbuatan baik orang lain… sebaliknya banyak yang penuh curiga dan menuduh membabi buta pada ketulusan… tetapi bagaimanapun… kebenaran akan terlihat… perbuatan baik akan mendapat balasannya…. Karma.

  2. DV says:

    Jual beli bayi memang memprihatinkan meski aku tetap yakin si bayi itu pasti tetap dalam lindunganNya.
    Cerita fiksi plus kisah nyata yg menarik, Ria!

  3. Bro Neo says:

    hmmm… cerita yg menyentuh, sekaligus memprihatinkan

    semoga “Ali” selalu berlimpah kasih sayang…

  4. aRuL says:

    (doh) jika kebutuhan sudah berteriak dan uang sudah berbicara, manusia akan khilaf…

  5. Afdhal says:

    nice (combine) story :)

  6. Cecep says:

    kapan buku kumpulan cerpen atau novelnya di masukkan ke penerbit? :D

    ntar aku bikin janji untuk minta tanda tangan penulisnya deh. hehehe :D

  7. Afda Rizki says:

    Minta tanda tangan dunk :P

    *mumpung masih gampang minta tanda tangannya karena belum terkenal …*

  8. vizon says:

    argh… ini tho fiksi yang dipromosikan tadi? luar biasa Ri, bagus banget dan sangat menyentuh. Aku suka. Kirain tadi “true story”nya soal dirimu, hehehe… ;)

    Secara teknis memang perlu perbaikan sedikit dalam tanda baca dan konsistensi bahasa (tapi, kayaknya yang punya otoritas kritik yang beginian, si tukang anyam deh, bukan diriku :p)

  9. marshmallow says:

    ali masih kecil dan belum mengerti arti pertalian darah dsb. sejauh dia disayangi, siapa pun yang mengasuh tidak akan jadi persoalan. yang jadi masalah adalah bila sang anak dipisahkan dari masa lalu dan keluarga alaminya secara paksa.

    tapi tega banget ya ibu dyah menyerahkan anaknya, her flesh and blood. bukannya menurut pengakuannya dia sudah mapan. ah, hati manusia memang penuh teka-teki.

    nice story, ri.

  10. nh18 says:

    (read)

    BTW …
    ini diilhami dari kisah nyata Ri …
    addduuhhh … teganya …

    salam saya

  11. Yaaah speechless Ri..
    kasian si Ali nya….

  12. wow….ceritanya mengalir Ri….

    aku membayangkan kamu yang jadi mbak Nike kok ngga cocok ya? hihihi. Ternyata setengah fiksi ;)

    Semoga kasus jual beli anak bisa hilang dari muka bumi ini.

    EM

  13. inspiring bgt ria…mantraaap

  14. Pakde Cholik says:

    Bagusnya cerita ini. Sebuah kasih sayang yang dikhianati. Semoga Ali menjadi anak yang baik kelak dan kepada mbak Nike mendapatkan pelajaran berharga bahwa tak semua orang baik, sebaik dia memerankan lakonnya dipanggung dunia ini.
    Salam hangat dari Surabaya.

  15. Yu2n says:

    Duuh.. sedih Ri.. tapi kenyataannya sekarang ini memang msh banyak kasus begitu..

    kapan jalan2 ke panti asuhan lagi..?

  16. Zippy says:

    Saya hanya bisa ikut mendoakan aja, moga si Ali mendapatkan kebahagiaan bersama ibu N ayah angkat’x… :)
    Salam kenal :)

  17. tuyi says:

    Menyentuh banget ceritanya Ri…?
    terkadang inspirasi bisa didapat dimana aja ya…?

  18. Revan says:

    ceritanya bagus sista…
    Salam kenal yach

  19. Daiichi says:

    kadang manusia kurang sabar.. apapun alasannya harusnya anak adalah karunia dan titipan dari Sang Maha Pencipta, yang harus di jaga baik2.. ^_^

  20. Zulhaq says:

    ada sebab ada akibat…
    ada perbuatan ada balesan…
    itu sudah hukum alam, tak dapat dihindari, hanya isa di yakini

  21. hasruL says:

    Selalu penuh ekspresi, antonim, dan sinonim…
    Dinia ini…

    Siapa yang menanam kelak akan menuainya juga.

  22. zee says:

    Aduhhh………….
    AKu jadi sedih bacanya.. Dasar ibu kurang ajar, pengen diinjek deh rasanya… huh.
    Kasian si ALi, bagaimana ya nasibnya….

  23. Zian X-Fly says:

    Ceritanya sangat menyentuh dan penuh makna. Saya jadi tercerahkan.
    Salam kenal dari kalsel.

  24. Rindu says:

    Kapan yah perempuan terhindar dari segala kejahatan yang disebabkan oleh laki laki … *sedih*

  25. Bang Aswi says:

    Sungguh menggugah. Semoga tidak ada lagi ibu-ibu yang seperti itu lagi. Amiiin….

  26. abindut says:

    Gila kalaau ini cerita betulan, kok tega ya seorang ibu menjual anaknya seperti itu. Padahal binatang yan paling buas sekali pun tak tega melakukan hal tersebut…
    Bener-bener gila …..

  27. p u a k™ says:

    Kisah nyata yang mengharukan. Kok ada orang tega sama anak sendiri. Doh!.. gak kebayang Ya.
    Asyik juga nih, ternyata Ria pinter nulis fiksi juga.. lanjut Bungsu! :D

  28. suryaden says:

    duh… memusingkan sekali

    maklum penginnya sih yang serba wajar,.. kebutuhan hidup saat ini memang membuat orang menganggap semuanya wajar dan sah dilakukan… kok bisa ya

  29. Tuti Nonka says:

    Sungguh nggak masuk akal, seorang ibu tega menjual anak kandungnya sendiri. Tapi begitulah manusia, jika hati nurani sudah mati, ia bisa melakukan sesuatu yang tidak musykil.

    Semoga Ali baik-baik saja, dan suatu saat dapat bertemu dengan ibu kandungnya kembali. Bagaimanapun juga seorang anak pasti ingin mengetahui siapa sebenarnya wanita yang telah melahirkannya. Dan semoga Ali dapat mencintai ibu kandungnya, apa pun yang pernah dilakukan sang ibu …

  30. Tuti Nonka says:

    Ralat … ralat … kalimat terakhir paragraf pertama maksudnya : melakukan sesuatu yang musykil (‘tidak’nya dicoret … )

  31. masnur says:

    Tuntas aku bacanya mbak, kirain tadi pengalaman pribadi sbg pengasuh panti……..kunci utama yg akan mengingatkan Ali pd panti asuhan tsb adl ibunya. Jk sudah 17 th lalu Dyah bertemu dg Ali maka segalanya bisa diperbaiki kembali, kecuali kalokeluarga Ali sdh pindah entah kemana…….

  32. Didien® says:

    kuq ada ya yang tega seperti itu…???
    cerita yg bagus..fiktif dan fakta..eh mksdnya nyata tp sedikit ada campuran fiksi…
    semoga artikel ini bermanfaat ya mbak ria..amin

    salam, ^_^

  33. wah… ceritanya menyentuh banget mbak..

    dan, uang emang bisa bikin khilaf orang2 ya..

  34. ah, gimana ya… aku jg pernah punya sahabat yang menjual anaknya karena tidak punya uang. tadinya malah dia mau menggugurkan anaknya waktu masih di kandungan. tapi saya ngamuk. sudah dosa, hamil di luar nikah, kok ya tega2nya malah mau dibunuh…

    akhirnya sekarang, teman saya menyesal telah memberi anaknya pada orang lain…

  35. kawanlama95 says:

    saya membaca ini dengan konsentrasi penuh kisah yang membuat diri semakin sadar petapa pentingnya kasih sayang dan rasa tanggung jawab. sunguh sebuah ironi kehidupan karena pragmatisme kehidupan sehinga sebuah tanggung jawab dilepaskan. Tak patut di contoh. memilukan

  36. alamendah says:

    Panjang banget, ya? komennya singkat;
    Ibu itu kebangeten banget.
    Salam kenal

  37. perasaan saya terharu menyaksikan nasib perjalanan hidup si ali, semoga kelak dia menemukan perhatian dan kasih sayang orang2 terdekatnya. amiin.

  38. genthokelir says:

    siapapun yang menanam pastinya dia akan menuai
    mudah mudahan si Ali akan menuai kasih sayang yang sesungguhnya kelak
    saya jadi terharu dalam nasihat yang terselip di tulisan ini
    makasih

  39. Omiyan says:

    hhmm sungguh terlalu ortu seperti itu…gemes saya bacanya duh…kalau ada disekitar saya..ga taulah jadinya…

    padahal mereka anak anak adalah sebuah syurga dalam kehdupan sebuah rumah tangga…

    met Lebaran ya Teh

  40. Alief says:

    Kek,punya tisu gak,keknya ada yg ngalir nie dr mataku….

  41. thatboy says:

    bener-bener bagus nih ceritanya… kayaknya memang berbakat jadi penulis cerpen… kapan mau alih profesi :D :D

  42. Imam S says:

    Alur yang lembut… membawa kisah ini pada jajaran cerita apik.

    Walaupun tulisan ini (ples)fiksi.

  43. nurrahman says:

    sumpah ceritanya top markotop, saya tidak bisa menebak cerita di endingnya. di luar dugaan, dan itu kisah nyata yah..siip lah..

    padahal sati saya pikir pas membaca paragraf pertama, itu menceritakan pengalaman anda pribadi, pakai jilbab. tapi kok liat gravatarnya ga pake jilbab berambut panjang, he3…

    salam kenal, by nurrahman :D

  44. Mbuu Hado says:

    So…truly touching…Ri…, jadi pengen berkunjung ke panti asuhan….yuk ahhh…mari…Hepi Eid ya…Ri…maaf lahir bathin..:)

  45. Asnaful says:

    deskripsi dan redaksi cerita yang bagus.

    salam kenal,

  46. Ade says:

    Nice story ri..

    jadi bisa ngebayangin perasaannya Mba Nike waktu kehilangan Ali :-(

    Ria : iya mbak…sedih ya hiks….

Leave a Reply