Tag Archives: betah

Setia, betah dan comfort zone

Setia….mmmm kata sakti yang biasanya dipakai Untuk mendefenisikan bentuk loyalitas terhadap sesuatu. Tapi postingan ini tidak berbicara tentang hubungan yang itu ya *relationship antara seorang wanita dan Pria* tetapi lebih kepada setia dan loyal akan sesuatu yang bisa membuatmu bertahan melakukannya tanpa kenal waktu. Kalau kata lain yang biasanya digunakan mungkin kata “betah”.

Mari kuceritakan beberapa bentuk kata setia dan betah yang sudah kulakukan dan kujalankan selama 5 tahun hidupku di kota kecil ini:

  1. Bekerja selama 5 tahun di perusahaan dan departemen yang sama selama aku di Duri
  2. Mengajar di satu-satunya kampus IT yang berlokasi di Duri sejak September 2006
  3. Ngekost di tempat yang sama selama 5 tahunku di Duri
  4. Tidak memiliki TV serta absen menonton TV di Kamar kost tetapi berkomitmen menggantinya dengan membaca buku selama 5 tahun ngekost!
  5. Nge-laundry di tempat yang sama sejak mengenal kata Laundry pakaian -/+ 3 tahun yang lalu.

Ternyata me-list lima hal di atas bisa dikategorikan bahwa diriku termasuk orang yang jika sudah suka akan satu hal pasti akan menjalaninya tanpa harus bosan selama bertahun-tahun… berusaha betah dan sangat sayang jika harus berpindah ke hal lain, kalau kata kerennya orang-orang yang melihat dari luar menyebutnya “comfort zone”. Well aku mau membuat excuse bahwa yang aku alami bukan benar-benar comfort zone, aku bertanya jika  kamu harus berkutat 24 jam menjaga system tetap bisa dipakai, mengajar ilmu IT yang sifatnya sangat dinamis dan penuh perkembangan baru, terkadang harus under pressure menghadapi berbagai macam sifat user dan mahasiswa, selalu harus bisa menjawab dengan senyuman setiap kali seseorang bertanya padamu kenapa belum menikah diusia sekarang dan meluangkan waktu untuk mengisi komitmen membaca satu bulan minimal satu buku padahal waktu 24 jam terasa kurang, apakah semua itu bisa dikategorikan sebagai comfort zone?

Tapi ya itu kan hanya excuse-ku saja buat mereka, toh orang-orang yang melihat dari permukaan tetap mengatakan bahwa aku hanya berada pada comfort zone dan mereka selalu bertanya Kapan ya aku kira-kira bisa meninggalkan comfort zone ini? 😀 well…mereka bisa berasumsi, menebak atau bergunjing tapi toh yang menjalaninya tetap aku, jadi daripada membuat semua hal tersebut jadi uncomfort zone lebih baik aku buat jadi comfort zone sekalian…hehehehe…

Punya pengalaman dengan kata setia, betah dan comfort zone ?

Gambar pinjem disini